Sandinews.com–Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kabupaten Tanggamus, menyambut baik saran Wakil Ketua DPRD Tanggamus, Irwandi Suralaga, supaya pelaksanaan study tour berlokasi di dalam daerah.
Ketua K3S Tanggamus, Mursalin, mengatakan dirinya sangat mengapresiasi saran yang diberikan Irwandi. Dia bilang, masukan tersebut sangat baik karena dapat menambah wawasan siswa didik mengenai budaya dan potensi daerah.
Kendati begitu, ia mengusulkan agar jarak lokasi study tour agak sedikit diperluas sampai ke Kabupaten Pringsewu. Dia beralasan, para siswa berkeinginan untuk melihat dan menjelajahi destinasi wisata yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
“Biar ada pembanding antara wisata di Tanggamus dan Pringsewu. Kalau di Tanggamus kan sudah sering. Sehingga mereka ingin juga melihat tempat wisata lain,” kata Mursalin, Senin, (5/5/2025).
Menurut Mursalin, sejak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tanggamus, memperbolehkan study tour, sudah banyak sekolah yang menyiapkan rencana untuk berkarya wisata dalam waktu dekat ini.
Dia menyebut, mayoritas sekolah memilih Kabupaten Pringsewu sebagai tujuan destinasi studi tour. Selain karena dekat, juga hemat biaya.
“Study tour ke Pringsewu, biayanya itu Rp. 150 ribu sehari. Semua sudah include disitu, termasuk makan, ongkos bis, tiket masuk dan sebagainya,” ujarnya.
Dijelaskan Mursalin, hanya siswa kelas 6 yang ikut study tour. Adapun dewan guru, lanjutnya, semuanya turut serta mendampingi.
Ia berkata, tidak ada paksaan bagi siswa yang tidak ikut study tour. Dia menegaskan, tidak akan memaksa siswa apabila memang tidak ingin berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
“Sebelum keberangkatan, sekolah akan membagikan blanko pendaftaran sekaligus persetujuan wali murid. Bagi yang mengembalikan ya ikut, tidak ada paksaan,”pungkasnya.
Disdikbud Tanggamus buka keran larangan study tour.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanggamus, melalui Plt. Kabid Dikdas, Rohman, telah memperbolehkan sekolah untuk kembali mengadakan kegiatan karya wisata atau study tour.
Syaratnya, kata Rohman, tidak ada paksaan terhadap wali murid, dan harus dengan persetujuan dari komite sekolah.
“Sekolah boleh untuk melaksanakan study tour. Tapi, dengan syarat tidak memaksa dan disetujui oleh komite,” kata Rohman, mewakili Plt Kepala Disdikbud Tanggamus, Rakhman Husin, baru-baru ini.
Selain itu, syarat lain yang harus dipenuhi sekolah yaitu, usia kendaraan yang akan digunakan tidak boleh diatas 5 tahun. Hal ini dibuktikan dengan adanya keterangan STNK kendaraan.
Sarat lainnya, sopir bus harus menyertakan surat keterangan sehat dari puskesmas ataupun rumah sakit. Sopir juga mesti memiliki kelengkapan surat izin mengemudi (SIM).
Hal utama yang menjadi faktor penentu keberangkatan ialah adanya surat jalan dari kepolisian setempat.
“Kunci untuk jalan supaya bisa melaksanakan study tour, pihak sekolah wajib meminta surat izin jalan dari polsek ataupun polres,” ucapnya.
Wakil Ketua III DPRD Tanggamus sarankan Disdikbud dan sekolah untuk gelar study tour di Tanggamus.
Wakil Ketua DPRD Tanggamus, Irwandi Suralaga, mendukung penuh langkah Disdikbud yang memperbolehkan sekolah untuk kembali mengadakan study tour.
Menurut Irwandi, kegiatan study tour sangat baik dilaksanakan. Selain untuk mengenalkan berbagai objek wisata bagi para siswa didik, manfaat lainnya ialah dapat menciptakan kenangan indah dan mempererat persahabatan.
“Study tour itu bagus. Apalagi bagi siswa yang sudah mau lulus, bisa untuk kenang-kenangan mereka. Bahwa mereka pernah sama-sama bersekolah disitu,” kata Irwandi.
Untuk itu, dirinya pun menyarankan supaya Disdikbud, menginstruksikan pihak sekolah agar dalam melaksanakan kegiatan study tour cukup di seputaran Tanggamus.
Bang Ir bilang, destinasi wisata di Kabupaten berjuluk Bumi Begawi Jejama, banyak dan tidak kalah mentereng dengan lokawisata yang ada di luar daerah. Mulai dari agrowisata, wisata alam, wisata budaya, wisata bahari, wisata sejarah, sampai wisata religi, semua ada disini. Sehingga, tidak perlu bepergian jauh-jauh untuk berkaryawisata.
“Bagusnya, Disdikbud, mengarahkan objek wisatanya dilaksanakan di Tanggamus saja. Supaya anak-anak didik lebih mengenal lagi tentang budaya asli daerah. Kan, banyak objek-objek wisata kita yang tidak kalah bagus, tidak kalah hebat dari tempat wisata lain,” ujarnya.
Dirinya pun meminta Disdikbud dan pihak sekolah, untuk mempertimbangkan secara cermat, serta dapat mengimplementasikan saran yang ia kemukakan.
Jika tidak, justru ia curiga jangan-jangan kegiatan study tour ini menjadi lahan bisnis meraup cuan.
“Kalau masih juga ngotot, ya silahkan. Malah saya curiga, jangan-jangan study tour ini jadi lahan bisnis guru, kepala sekolah dan lahan bisnis pihak-pihak tertentu, bahkan dinas. Kali ini, kita tantang kreatif tidak ? Kalau memang bisa kreatif, bagus,” pungkasnya. (Denny)











