Kisah Malaikat Maut Mencabut Nyawa Raja Zhalim dan Orang Shalih

  • Share
By nett

Sandinews.com–Wahab bin Munabbih rah.a. berkata, “Salah seorang raja ingin berjalan dan melihat seluruh kawasan wilayahnya. Ia meminta agar dibawakan kepadanya pakaian yang terindah dan terbagus. Lalu dibawakan untuknya pakaian, namun pakaian itu tidak disukainya.”

Ia menyuruh agar ditukar dan dibawakan pakaian lain yang lebih bagus. Namun, dengan pakaian yang telah di tukar itu pun raja tetap tidak menyukainya. Berkali-kali raja mengembalikan pakaian yang dibawa oleh pelayannya. Akhirnya, terpilih satu pakaian yang sangat indah dan bagus menurutnya.

Kemudian, ia meminta agar dibawakan satu kendaraan yang terbaik. Maka kuda yang terbaik, terindah dan terkuat telah dihadapkan kepada raja, tetapi raja tidak menyukainya. Berkali-kali kuda ditukar, namun tetap tidak memuaskan hatinya.

Akhirnya, semua kuda dihadapkan kepadanya, dan ia memilih seekor kuda yang sangat indah dan kuat untuk ditungganginya.

Syetan yang terkutuk telah berpeluang besar untuk meniupkan semangat kebesaran diri pada raja itu. Dengan penuh takabbur raja menunggang kuda. Para pelayan, pasukan tentara, dan para petugas berada dalam satu barisan yang panjang mengiringinya. Dan karena ketakabburan dan kebanggaan dirinya, ia tidak mempedulikan siapa pun di dalam barisan itu.

Ditengah perjalanan, raja dihadang oleh seseorang yang berpakaian buruk lagi hina dan memberi salam kepadanya. Tetapi raja tidak mempedulikannya dan tidak menjawab salamnya. Lalu orang itu memegang tali kudanya. Dengan sangat marah, raja menghardiknya, “Lepaskan tali kudaku! Kurang ajar kamu! Berani sekali kamu memegang tali kudaku! ”

Ia menjawab, “Ada sesuatu yang penting untukmu.”

Raja berkata, “Tunggulah! Jika aku turun dari kuda, baru kamu dapat menyampaikan ucapanmu.”

Orang itu berkata, “Tidak! Aku harus menyampaikannya sekarang juga.”

Baca Juga  Kriteria Dan Kewajiban Seorang Pemimpin Kepada Rakyat Menurut Amirul Mukminin Umar RA

Dengan kuat ia menarik tali kuda itu dan merampasnya dari tangan raja, dan raja pun tidak berdaya, lalu berkata, “Baiklah, bicaralah sekarang! ”

Orang itu berkata, “Pesan ini sangat rahasia. Aku harus menyampaikannya langsung ke telingamu. Maka raja pun mendekatkan telinganya ke mulut orang itu. Lalu orang itu berbisik, ” Akulah malaikat maut. Sekarang juga aku akan mencabut nyawamu.”

Mendengar hal itu, muka raja langsung berubah pucat, lidahnya hampir keluar dari mulutnya. Raja meminta, “Berilah saya sedikit waktu untuk kembali ke istana agar dapat mengurus harta saya dan berjumpa dengan keluarga saya.”

Malaikat menjawab, “Tidak ada waktu sama sekali. Mulai sekarang kamu tidak akan lagi melihat keluarga dan hartamu.”

Sambil berkata demikian, malaikat maut mencabut nyawanya, sehingga raja pun terjatuh dari kudanya seperti seonggok kayu yang tumbang.

Kemudian malaikat maut pergi menemui salah seorang muslim yang shalih. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Malaikat maut pun memberi salam kepadanya. Dia menjawab, “Wa’alaykumussalam.”

Malaikat maut berkata, “Aku akan menyampaikan sesuatu di telingamu.”

Orang shalih berkata, “Silahkan.”

Lalu malaikat maut berbisik di telinganya, “Aku adalah malaikat maut,”

Mendengar hal itu, orang shalih merasa sangat gembira, lalu berkata, “Sungguh baik engkau datang padaku. Sangat berkah kedatanganmu kepadaku. Dari sekian banyak hamba-hamba Allah, engkaulah yang paling aku tunggu.”

Malaikat maut berkata, “Segeralah kamu selesaikan urusanmu.

Orang shalih itu berkata, ” Tidak ada lagi urusan yang lebih aku sukai selain dari berjumpa dengan Allah SWT. ”

Malaikat maut pun berkata, “Aku ingin mencabut nyawamu dalam keadaan yang paling kamu sukai untuk dirimu sendiri.”

Baca Juga  Kisah Syetan Mengajari Manfaat Ayat Kursi Kepada Abu Hurairah r.a

Orang shalih menjawab, “Terserah padamu. Namun, jika begitu aku ingin mengambil widhi dan mendirikan shalat. Lalu aku ingin mati dalam keadaan sujud kepada Allah.”

Maka dia pun mulai berwudhu dan shalat. Dalam keadaan sujud, ruhnya telah dicabut.” (Ihya)

Sumber : Kitab Fadhillah Amal Jilid II

(Abi) 

  • Share