Sandinews.com–Bupati Tanggamus, Moh Saleh Asnawi, menerima kunjungan pengusaha asal Rusia, Mr Badal di kediamannya, Lamban Bulapis Batang, Talang Padang, Sabtu (23/5/2026).
Mr Badal datang bersama Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Publikasi dan Dokumentasi, Hermansyah, beserta Altendro Mustofa dan Riza Muhida, selaku juru bahasa.
Mendampingi Bupati Jalan Lurus, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Tanggamus, Henri Fatra, Kepala Bapperida, Doni Sengaji Berisang, dan Kepala Dinas Pertanian, Alkat Alamsyah.
Melalui juru bahasanya, Altendro Mustofa, Badal mengungkapkan kepada Saleh mengenai ketertarikannya untuk mengimpor beberapa komoditas hasil perkebunan dari Tanggamus, seperti kopi, kakao, dan lada hitam.
Tidak hanya itu, ia juga menyatakan keinginannya untuk mengimpor hasil laut Tanggamus berupa ikan tuna. Menurutnya, minat impor Rusia terhadap komoditas tuna sangat tinggi.
Kata Altendro, komoditas yang akan diimpor tersebut tidak hanya ditujukan untuk Rusia, tetapi juga didistribusikan ke berbagai negara lain seperti Belarusia, Kazakhstan, Armenia, dan Uzbekistan. Oleh karena tingginya permintaan, memaksa Badal untuk turun langsung mencari bahan baku guna memenuhi kebutuhan komoditas ke berbagai negara tersebut.
“Permintaannya memang sangat besar, ini aja perdana untuk kakao sudah langsung ngirim 500 ton dan mereka minta cuma dalam waktu dua minggu. Karena memang mereka tidak ada pesa tapi menunggu 1-2 bulan, enggak mau mereka,” kata Altendro.
“Pokoknya setelah kontrak turun, disepakati berapa minggu untuk sekian ton. Jadi tidak ada kita bicara 1-2 bulan. Karena mereka ini langsung dari Rusia, bukan perantara,” tambahnya.
Altendro mengatakan bahwa perusahaan Badal tidak hanya akan mengimpor bahan baku mentah dari Tanggamus, tetapi juga bakal berinvestasi dengan membangun pabrik bubuk cokelat di Bumi Begawi Jejama. Syaratnya, Pemkab Tanggamus harus mampu menyediakan bahan baku secara berkelanjutan dan tidak terputus. Selain itu, pabrik juga harus bisa memenuhi target permintaan yang ditetapkan, yakni minimal 5 ribu ton bubuk cokelat per bulan.
Menurutnya, kendala yang dialami perusahaan Rusia selama ini adalah ketidakmampuan pabrik dalam memenuhi target yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, ia sangat berharap, jika investasi ini terealisasi tahun depan, pabrik dapat memenuhi target yang diberikan perusahaan.
“Mudah-mudahan Pak Bupati, tahun depan kalau kita buka pabrik kerja sama di sini, permintaan mereka itu setiap bulan 5 ribu ton cocoa powder tidak pernah putus. Kedepannya supaya kita bisa melakukan perencanaan, mungkin Pak Bupati kalkulasi dulu. Biji cokelat kita berapa yang dihasilkan, apakah bisa menutupi itu, karena pabrik enggak boleh berhenti, setiap hari harus beroperasi,” ujarnya.
Sementara, untuk komoditas kopi, pihaknya menyatakan ingin mengimpor green bean atau biji kopi mentah Robusta yang telah dipanen dan dikeringkan. Fokus utamanya adalah kopi grade 3 dan 4, namun perusahaan Rusia juga terbuka untuk menerima grade 1 dan 2.
Oleh karena itu, ia meminta Pemkab Tanggamus memberikan parameter green bean yang dimaksud agar pihaknya dapat menentukan kualitas mana yang akan mereka terima.
“Untuk tes pertama kita, kalau bisa dikirim 200 ton dulu. Nanti enam bulan ke depan baru kita order minimum 2 ribu ton. Kenapa butuh enam bulan ke depan? karena selama ini, Rusia taunya green been ini kan dari Vietnam. Kalau kita ambil di sini, maka kita cutting yang disana. Makanya butuh waktu enam bulan untuk membicarakan hal itu, sekarang kita ambil di sini, bukan lagi di Vietnam, atau yang lainnya,” jelas Altendro.
Menanggapi tawaran investasi dari Mr Badal, Haji Saleh menyambut baik rencana tersebut. Ia menyatakan daerahnya sangat mampu untuk memenuhi permintaan berbagai komoditas yang dibutuhkan perusahaan Rusia.
Untuk komoditi perikanan, ujarnya, wilayah Tanggamus dikelilingi Teluk Semaka, dan Bukit Barisan, sehingga kualitas hasil lautnya terjamin dan sangat potensial untuk ekspor.
Sedangkan untuk komoditi kakao, meskipun produktivitasnya hanya mencapai 20-30 persen, namun ia sanggup memenuhi target yang ditetapkan apabila perusahaan Rusia bersedia mendirikan pabrik cokelat bubuk di Tanggamus.
“Saya sangat senang sekali kalau mau buat pabrik bubuk cokelat di sini. Cokelat kita hari ini mungkin hanya 20-30 persen, cuma kalau sudah rencana buat pabrik, kita akan arahkan masyarakat menanam cokelat dan Kabupaten Tanggamus akan menjadi satu-satunya yang memiliki pabrik cokelat disekitar empat kabupaten penghasil cokelat di Lampung, yaitu Kabupaten Pesisir Barat, Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesawaran, dan pusatnya bisa di sini. Pasti mereka akan suplainya disini, karena mereka belum ada pabrik,” ungkapnya.
“Jadi tidak usah takut jika ingin berinvestasi disini karena di daerah-daerah itu belum ada pabrik. Jadi sangat tepat sekali kalau mau investasi di sini,” sambungnya.
Sementara itu, terkait komoditas kopi, ia menegaskan bahwa Kabupaten Tanggamus merupakan salah satu penghasil kopi Robusta terbaik di Lampung. Terbukti hasil komoditasnya menjadi pasokan bahan baku di pabrik Nestle.
Sejalan dengan itu, ia menyebut sudah ada investor yang menanamkan modalnya dengan membangun pabrik kopi dengan dilengkapi fasilitas mesin pengolah kopi dari Brasil. Kapasitas produksi pabrik yang mencapai puluhan ton per hari membuat Saleh yakin mampu memenuhi target dari perusahaan Rusia.
“Kopi di Tanggamus sangat potensial, betul-betul bagus. Sekarang kita sedang siapkan rencana pembangunan pabrik di sini, mesinnya dari Brasil. Produksinya berapa puluh ton setiap hari. Jadi, masuk nominasi yang disampaikan tadi. InsyaAllah, tahun depan sudah mulai produksi,” pungkasnya. (Teddy)












