Sandinews.com–Pasangan Moh. Saleh Asnawi dan Agus Suranto akan dinobatkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tanggamus hari ini, Kamis (20/2/2025).
Rencananya, Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan bakal melantik keduanya pagi ini, tepatnya pada pukul 10.00 WIB.
Selain keduanya, Presiden RI ke 8 itu juga melantik 480 pasangan kepala daerah lainnya, yang terdiri dari 33 pasangan gubernur wakil gubernur, 364 pasangan bupati dan wakil bupati, dan 84 pasangan walikota dan wakil walikota.
Moh Saleh Asnawi menjadi Bupati Tanggamus ke 6 yang memimpin Kabupaten berjuluk Bumi Begawi Jejama. Sementara, Agus Suranto mencatatkan diri sebagai Wakil Bupati Tanggamus ke 5 sejak berdirinya Tanggamus pada tahun 1997 silam.
Sebelum menjabat bupati, Moh Saleh Asnawi merupakan seorang pengusaha sukses dengan rekam jejak panjang di dunia bisnis dan politik.
Mengutip berbagai sumber, Saleh pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kota Tangerang Selatan periode 2010-2014. Periode berikutnya, karir politiknya melejit menjadi Wakil Ketua DPRD di daerah yang sama. Sementara, di dunia bisnis, dirinya memiliki tiga perusahaan besar, yakni CV Naga Kencana, PT. Buana Subur Sentosa, dan PT BSA Land.
Sedangkan, wakilnya Agus Suranto, merupakan penggiat politik dan seorang enterpreneur atau wirausahawan. Disamping itu, dirinya juga pernah berprofesi sebagai tenaga pendidik di SMP Muhammadyah, Gisting.
Sebelum keberangkatannya ke Jakarta untuk mengikuti berbagai agenda jelang pelantikan kepala daerah, Agus Suranto membagikan sekelumit mengenai kisah perjalanannya dalam meniti karir kehidupan.
Awal narasi dia buka dengan menceritakan kegemarannya mengikuti kegiatan Pramuka waktu SMP. Berawal dari situ, membuat pria kelahiran Purwodadi, 17 Agustus 1980 ketagihan dalam berorganisasi hingga akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik.
Penuturan Agus, selama dirinya bersekolah mulai dari jenjang SMP hingga SMA, sudah banyak organisasi sekolah yang dia ikuti. Bahkan, suami Yeni Verawati itu mengatakan pernah menjadi Ketua OSIS waktu duduk di bangku SMA.
Agus mengaku sudah mengenal dunia politik sejak tahun 1998. Ia menuturkan pengalaman pertamanya dalam kancah politik ketika menjadi saksi Partai Amanat Nasional (PAN) di tempat pemungutan suara (TPS). Pada waktu itu umurnya sekitar 18 tahun, baru lulus SMA.
Disamping berpolitik, ia juga berkecimpung dalam dunia pendidikan. Menurutnya, satu tahun pasca menyelesaikan sekolahnya di SMA Muhammadyah Gisting, dirinya bekerja menjadi penjaga perpustakaan di SMP Muhammadyah Gisting, tempat dimana dia pernah bersekolah. Pekerjaan ini dia jalani selama hampir 4 tahun.
Setelah itu, ayah Griselda Hilya Aghni dan Abyoso Danuja Aghni melanjutkan karier pendidikannya dengan menjadi guru honorer mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah yang sama. Profesinya ini dia tekuni selama 7 tarikh, mulai dari tahun 2003 sampai 2010.
Setahun sebelum memutuskan untuk berhenti menjadi seorang guru, Agus Suranto punya keinginan untuk berwirausaha. Muncul keinginannya membuka usaha jasa pencucian steam kendaraan. Sayangnya, kondisi fisiknya tidak mendukung sehingga usaha yang dia rintis ini tidak bertahan lama.
“Itulah wong iso karena kulino, saya mungkin kurang terbiasa main di air maka 3 bulan jadi tukang cuci mobil, saya ngerasain badan saya pegal-pegal kayak orang rematik. Sehingga, saya tidak lagi jadi tukang cucinya, cuma nerima orang terus bantuin ngelap mobil. Akhirnya, saya serahkan usaha steam itu ke adik-adik saya,” kata Agus.
Setelah tidak sanggup lagi berurusan dengan air dan kanebo, dia kemudian memiliki gagasan usaha yang diakuinya sebagai ide gila. Dirinya menjajal alih profesi menjadi seorang tukang jahit. Bermodalkan uang Rp. 7,5 juta, Agus saat itu nekat membeli tiga buah mesin jahit. Ia lantas mencoba peruntungan dengan membuka usaha konveksi cetak kaos.
“Tahun 2010,saya buka usaha konveksi namanya Rumah Kelambi. Rumah Kelambi itu bertahan lama, bangkrutnya saya di Rumah Kelambi itu pada saat pandemi Covid-19,” kenangnya.
Tidak berputus asa, setelah usaha konveksinya bangkrut, bapak dua orang ini kemudian membuka usaha ternak ayam kampung.
Bermodalkan 8 ekor ayam kampung indukan yang ia tempatkan di belakang rumah, Agus resmi memiliki profesi baru sebagai peternak ayam.
“Pagi saya anter anak sekolah, pulangnya mampir ke pasar ambil rempesan sayuran untuk makan ayam saya, dan saya menikmati,”ujar Agus.
Agus menjelaskan mempunyai konsep tersendiri dalam mengurus ternak ayamnya, mulai dari pemberian pakan sampai siklus hidup ayam sudah dia jadwal dengan baik.
Maka tidak heran, berkat kegigihan dan ketekunannya dalam mengurus ternaknya, membuat usaha yang dijalaninya maju dan berkembang. Ayam yang semula hanya 8 ekor, telah menjadi ribuan ekor.
“Karena sudah banyak akhirnya saya kerjasama dengan paman saya yang punya lahan di belakang kemudian buat kandang dengan ukuran yang lebih besar 6×20 meter,”ungkapnya.
Agus menjelaskan tidak menerapkan strategi berlebihan dalam memasarkan ternak ayam kampungnya. Ia bilang, pemasarannya hanya melalui media sosial dan menawarkan secara langsung kepada orang-orang terdekatnya.
Harga ayam yang dia jual juga ekonomis. Untuk harga satu ekor ayam kampung hidup, kata Agus, ia jual seharga Rp. 40 ribu. Sementara, harga ayam yang sudah dipotong dijualnya seharga Rp. 55 ribu.
Ia menerangkan, usaha yang dia rintis sejak tahun 2020 ini masih berjalan sampai sekarang. Namun, karena kesibukannya dalam berpolitik membuat produksi ayamnya dihentikan sementara.
“Usahanya masih jalan. InsyaAllah, suatu saat kandang ayam itu tempat saya kembali lagi,” tuturnya. (Denny)











